KEINGINAN parpol “Koalisi Merah
Putih” yang mendorong pemilukada di DPRD menuai kritikan dari pengurus parpol
“Indonesia Hebat”.
“Kalau modelnya seperti itu, maka
demokrasi kita ibaratnya seperti tarian poco-poco. Maju selangkah, mundur
selangkah, kadang dua langkah,” kata Caleg Terpilih DPR RI Partai NasDem Luthfi
A Mutty dalam acara Talk Show DPD RI, di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (5/9). Bagaimana dengan 11 Pilkada di
Sulsel yang rencananya akan digelar 2015 mendatang? Bekas Bupati Luwu Utara dua
periode ini mengungkapkan, jika pemilukada lewat DPRD akan menyuburkan politik
dinasti.
Alasannya, jika rakyat banyak saja
dapat dikontrol apalagi anggota DPRD yang jumlahnya jauh lebih sedikit.
Tentunya kata dia, akan lebih mudah mengontrol DPRD yang jumlahnya terbatas,
karakternya buruk dan integritasnya rendah.
“Akibatnya akan lahir banyak aktor
politik dadakan yang tidak matang sebagai KDH (kepala daerah). Mereka tampil ke
panggung politik melalui proses karbitan. Dengan modal kursi orang tua sebagai
penguasa dan sebagai pimpinan partai, maka tiket menuju kursi KDH telah di
tangan,” ujarnya.
Luthfi menambahkan, pemilihan lewat
DPRD juga bukan jaminan akan mengakhiri korupsi dan kerusuhan. Masalah
sesungguhnya menurut dia adalah pada kualitas politisi lokal yang lahir secara
instan dengan mentalitas menerabas sehingga tidak memiliki kematangan dan
kedewasaan politik.
Di tempat yang sama, Pengamat
Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Firdaus Muhammad
menyebutkan, jika pemilukada benar dilakukan oleh DPRD, maka bukan tidak
mungkin 11 Pilkada di Sulsel akan dikuasai oleh Koalisi Merah Putih (KMP).
KMP ini sendiri merupakan bentuk
komitmen partai pengusung pasangan Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014, yang
terdiri dari Partai Gerindra, Golkar, PKS, PPP, Demokrat, dan PAN.
Di Pemilu 2014 kali ini, Partai
Golkar menguasai 15 kursi ketua DPRD dari 24 kabupaten di Sulsel. Tujuh kursi
ketua DPRD yang tak lagi milik Golkar, masing-masing Toraja Utara, Soppeng,
Jeneponto, Bantaeng, Pinrang, Sinjai, Maros. Dari tujuh daerah itu, Gerindra
mampu merebut lima kursi. Empat kursi lainnya dibagi Partai Demokrat, Partai
Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Amanat Nasional (PAN).
“RUU Pilkada telah menjalani proses
panjang. Fraksi yang awalnya menolak melakukan pemiliha langsung di DPRD
akhirnya ikut sepakat. Dan saya pikir ini merupakan manuver Golkar dan
Gerindra, jika RUU ini diketuk, maka Pilkada di 11 kabupaten di Sulsel bisa
disapu bersih kader Golkar dan Gerindra,” jelas Firdaus.
Menurut Firdaus, pengesahan RUU
Pilkada yang telah memasuki tahap akhir di DPR syarat akan kepentingan politik.
Kekalahan KMP pada Pilpres lalu bisa jadi bentuk penjegalan program-program
Jokowi-Jusuf Kalla dengan mengambil alih posisi kepala daerah.
“Kalau DPR dan pemerintah ngotot ingin
mengesahkan RUU Pilkada maka solusi untuk ke depan adalah Jokowi-JK harus
ketemu dengan koalisi merah putih, agar anntinya ada sinkronisasi realisasi
program kerja pemerintah pusat dengan daerah,” kata dia.
(Takalar News.com)
sumber : http://rakyatsulsel.com/luthfi-demokrasi-poco-poco.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar